Senin, 31 Juli 2017

BIARKAN EDELLWEISS TETAP CANTIK DI TEMPATNYA








Bunga Abadi , begitulah dia disebut oleh para pendaki dan pencinta ketinggian.  Namun bukanlah simbol keabadian cinta. Hey kamu yang merasa perlu memetik bunga cantik ini dan mempersembahkan pada kekasih tersayang sebagai makna keabadian cintamu, ga usah lebay. Cintamu bergantung bagaimana kesetiaan hatimu, bukan pada si bunga abadi yang kamu petik dan bawa turun dengan bangga dan merasa gagah berani. Tanpa sadar kamu telah menunjukkan bahwa dirimu sesungguhnya tak pantas untuk menyinggahi ketinggian dan menikmati keindahan alam. Naik gunung dan mencapai puncaknya bukanlah soal kebanggaan dan kehebatan, tetapi adalah memaknai sebuah perjalanan hati, bagaimana mencintai dan menumbuhkan rasa peduli terhadap alam semesta dan empati terhadap makhluk lainnya.

Udah bukan jamannya untuk menjelaskan panjang lebar tentang dilarangnya memetik bunga ini, apalagi demi sebuah mitos, sebagai tanda cinta yang abadi buat sang kekasih. Daripada memetik diam-diam bunga ini dan membawanya turun kemudian mempersembahkannya pada kekasih hati, kenapa kamu ga ajak aja dia untuk naik gunung dan menyaksikan sendiri keindahannya di tempat yang semestinya. Tentunya itu lebih indah dan berkesan. Tetapi tentunya si dia harus kamu persiapkan fisik dan keperluan lainnya yang wajib dipenuhi dalam sebuah pendakian. Percayalah, si Bunga Abadi hanya akan terlihat cantik ditempatnya, bayangkan ketika terjaga pagi hari menyaksikannya dihiasi tetes tetes embun di dahan dan bunganya.

                                           photo by Firman nyem



Seperti si dia kekasih hati, kenali alam sekitarmu, karena Tak Kenal Maka Tak Sayang, Tak Sayang Maka Tak Cinta.  Si bunga Abadi ini adalah Edellweiss atau Bunga Senduro, nama latinnya adalah Anaphalis Javanica. Cantik seperti namanya, tumbuh endemik dipegunungan diketinggian 800 hingga 3400 meter dari permukaan laut atau di zona montana-alpine. Kenapa disebut Edellweiss? Karena kemiripannya yang dikenal sebagai bunga abadi dan tahan lama, seperti Edellweiss di pegunungan Eropa (Leontopodium Alpinum cass). Di Asia penyebarannya ada sekitar 110 jenis, namun di Asia Tenggara hanya sekitar 6 jenis yaitu A.javanica, A.longifolia, A.maxima, A.arfakensis, A.viscida dan A.helwigii. Anaphalis spp berdasarkan IUCN redlist dinyatakan sebagai tumbuhan yang terancam keberadaannya .Karena itu tumbuhan ini statusnya dilindungi Pemerintah bidang Kehutanan sebagai tanaman langka dengan kategori jarang(rere), yaitu tanaman yang populasinya besar namun hanya berada di suatu tempat tertentu atau penyebarannya luas tetapi sudah jarang ditemui karena mengalami erosi dan tekanan yang berat.  Ancaman disebabkan oleh aktifitas manusia, karena dekatnya dengan kehadiran banyak pengunjung di jalur pendakian.





Tumbuhan Edellweiss bisa mencapai ketinggian 8 meter namun pada umumnya banyak bertahan dengan tinggi 1 hingga 1,5 meter. Namun dari catatan yang ada, untuk mencapai tinggi 20cm dibutuhkan waktu hingga 13tahun. Kebayang kan ketika terjadi kebakaran di padang rumput Alun-alun Surya Kencana di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, dimana banyak tumbuhan Edellweiss yang turut terbakar, berapa lama hingga kita bisa melihat bunganya bermekaran kembali. Begitu juga dengan bunga-bunga yang di petik oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab ( seperti kamu, ya kamu yang masih saja usil tangannya memetik dan diam-diam membawa turun si bunga abadi). Dan tanpa sadar dengan memetik bunga Edellweis kita telah merampas tempat tinggal begitu banyak serangga dan merusak ekosistem. Bunga dari Edellweiss merupakan sumber makanan bagi berbagai jenis serangga seperti diptera, hemiptera, lepidoptera, thysanoptera dan hymenoptera. Kelestarian berbagai serangga bergantung pada tumbuhan ini dan secara tidak langsung akan mempengaruhi rantai makanan.



                                                                   photo by Erick Kelana





Taman Nasional Gunung Gede Pangrango adalah salah satu tempat perlindungan terakhir bagi tumbuhan ini. Tercatat ratusan tangkai yang ditemukan di petik dan dibawa turun oleh pendaki. Dahulu setiap pendaki akan diperiksa seluruh isi kerirnya untuk memberikan sanksi bagi pendaki yang ditemukan membawa bunga Edellweiss. Waktu berlalu, kebiasaan tersebut mulai ditinggalkan, dengan menaruh kepercayaan pada pendaki bahwa mereka adalah orang-orang terdidik yang memahami dan mengikuti peraturan yang ada. Tetapi sayangnya tidak seperti itu yang terjadi, sama hal nya dengan sampah, tidak semua pendaki adalah mereka yang benar-benar mencintai alam. Meninggalkan sampah yang mereka bawa naik dan membawa turun bunga Edellweiss adalah hadiah yang mereka berikan pada alam yang telah memberikan banyak keindahan dan hal-hal luar biasa buat mereka. Padahal jelas peraturan itu telah mereka baca dan tandatangani.

Yuuk menjadi pendaki yang cerdas dan lebih bijak bertindak terhadap alam semesta. Stop menjadi pendaki alay yang hanya naik gunung hanya untuk mencapai puncak dan foto-foto narsis. Jika kita bisa berfoto-foto narsis dengan gadget yang semakin canggih saat ini, maka gunakanlah Hape dan kamera kita untuk merekam segala keindahan Edellweiss itu dalam kenangan yang bisa kita lihat dengan karya seni. Manfaatkan kecanggihan ponsel dan kamera kita untuk mendapatkan gambar-gambar terbaik hingga kita bisa memperlihatkan pada dunia (bukan Cuma kekasih hati) bagaimana indahnya Bunga Abadi atau Edellweiss itu.

Salam Lestari.


(dari berbagai sumber) 
photo : Doc dinny

Tidak ada komentar: