Tampilkan postingan dengan label Wisata alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata alam. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Januari 2017

SEMESTA PESONA CURUG KACA JAMPANG KULON









Yakin belum mau singgah di tempat ini? Curug Kaca yang terletak di Kampung Cisuru Desa Mekar Jaya Kecamatan Jampang Kulon ini semakin berbenah diri dan layak disebut Desa Wisata. Semesta pesona yang menyelimutinya menjadi daya tarik untuk dikunjungi . Bukan hanya sekedar wisata ke curug yang mempunyai pemandangan luar biasa indah, tetapi pengunjung akan menjumpai banyak hal menarik lainnya. Keramahtamahan masyarakat Kampung Cisuru, suasana perkampungan yang masih terasa alami, serta suguhan makanan khas setempat yang luar biasa nikmat.

Meskipun nama yang dikenal adalah Curug Kaca, disini terdapat 7 buah Curug yang memiliki keindahan dan keunikannya sendiri. Ke 7 Curug tersebut yaitu :
-          Curug Kaca
-          Curug Cikahuripan
-          Curug Anggrek
-          Curug Halang
-          Curug Nutug
-          Curug Leuwi Buleud
-          Curug Batu Kembar
Semua Curug tersebut berada di lokasi yang berdekatan, dengan aliran air yang jernih dan menyegarkan, yang mengundang untuk berendam di kesejukannya. Suasana alami dan keindahan alam disekitarnya pun membuat betah berlama-lama disini.










Memasuki kampung Cisuru , suasana alami sudah sangat terasa dengan rumah-rumah penduduk yang hampir semuanya terbuat dari kayu. Sapa ramah akan menyambut kehadiran kita di sana. Mayoritas penduduk kampung Cisuru adalah bertani dan berkebun, mereka adalah pekerja keras dan memiliki semangat gotong royong yang tinggi. Ini terbukti dengan kerja sama dalam membenahi fasilitas agar Curug Kaca layak untuk didatangi. Tanpa menunggu pemerintah turun tangan, mereka membenahi sendiri jalan setapak menuju ke lokasi. Jadi jangan khawatir, jalan menuju ke Curug sudah sangat jelas dan tertata meski dengan sederhana.







Akses menuju Curug Kaca dari Jakarta adalah menuju ke Sukabumi, kemudian dari Cibadak mengambil Jalur ke arah Palabuan Ratu. Selanjutnya mengikuti arah jalan ke Surade, jalan masuk ke Desa Mekar Jaya Kecamatan jampang Kulon berada sekitar satu Km dari pertigaan jalan menuju Geopark Ciletuh. Tidak ada angkutan umum yang menuju ke lokasi. Untuk mencapai lokasi sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi baik motor ataupun mobil. Jangan khawatir jika harus bermalam, karena di Kampung Cisuru terdapat Homestay yang disewakan bagi para pengunjung dan juga dapat bermalam di rumah penduduk.

Selain tersedia Homestay untuk bermalam, pengunjung juga bisa memesan makanan kepada ibu-ibu di Kampung Cisuru. Makanan yang disuguhkan adalah makanan khas setempat yang berasal dari hasil pertanian dan perkebunan mereka. Berbagai penganan dari singkong ataupun beras ketan, terasa sangat pas dan nikmat dengan suasana alami pedesaan. Begitu juga dengan santapan rumahan berupa nasi beras merah, ikan asin, lalap dan sambal honje yang merupakan makanan tradisional.










Masyarakat Desa Mekar Jaya terutama penduduk Kampung Cisuru sangat ramah dan terbuka terhadap kehadiran pengunjung di tempat mereka. Maka jika berkunjung kemari sebaiknya kita pun menghargai tatanan hidup yang ada disini sebagaimana mestinya dimanapun tempat wisata yang kita kunjungi. Jadilah pengunjung wisata yang cerdas dengan bertindak cerdas pula, menghargai adab sopan santun, tidak membuat keributan dan jangan pernah membuang sampah sembarangan terutama di lokasi wisata Curug kaca. Jika tidak ada tersedia tempat sampah, maka kantongilah sampah dari bekal yang kita bawa, untuk kemudian dibuang pada tempat yang telah disediakan. Sehingga suatu hari kembali ke tempat ini, semua masih alami dan indah. Dan dengan sedikit tindakan nyata itu, kita telah turut menjaga lingkungan.

Satu pesona lagi yang sayang untuk dilewatkan di Desa Mekar jaya adalah kesenian khas atau budaya setempat yaitu Kuda Lumping dan Pencak silat. Kesenian Tradisional ini masih tetap terjaga hingga saat ini, dimana anak-anak sebagai generasi penerus masih mempelajari dan melakoninya. Dengan segala pesona tersebut maka Desa Mekar Jaya khususnya Kampung Cisuru layaklah sekiranya menjadi Desa Wisata dan sangat pantas untuk dikunjungi.




Rabu, 26 Oktober 2016

JELAJAH ALAM PASAMAN TIMUR - TWA RIMBO PANTI –









Taman Wisata Alam Rimbo Panti adalah bagian dari Cagar Alam Rimbo Panti.  Rimbo atau Hutan belantara yang terdapat di kecamatan Panti Kabupaten Pasaman Timur ini sejak lama terkenal sebagai Hutan yang terjaga kelestariannya. Dahulu melalui Rimbo ini rasanya sangat menakutkan, namun kini Jalan raya yang melaluinya terkesan sangat bersahabat dan menyejukkan sehingga orang pun tak lagi takut melaluinya, bahkan banyak pasangan-pasangan muda yang terlihat berdua-dua-an dipinggir jalan di tepi Rimbo itu.

Rimbo Panti bisa dicapai dari Kota Padang dengan jarak sekitar 180 km melalui ibukota Pasaman Timur yaitu Lubuk Sikaping. Perjalanan selama kurang lebih 3 jam akan terasa menyenangkan karena menjelang kota Lubuk Sikaping pun kita akan disuguhi pemandangan yang indah , sungai yang mengalir jernih, belantara hijau yang menyejukkan diantara jalan berkelok-kelok yang sangat bersih dan indah. Jika dari arah Pasaman Barat, Rimbo Panti  bisa dicapai melalui Simpang IV  ke arah Nagari talu dan terlebih dahulu melewati Nagari Cubadak yang terkenal dengan kerajinan Pisau dan Golok nya. 









Cagar alam Rimbo Panti seluas 3.120 hektar merupakan habitat bagi banyak spesies hewan dan tumbuhan langka dan dilindungi . Diantara spesies tumbuhan tersebut adalah bunga bangkai (Amorphophalus titanum), bunga raksasa (Rafflesia arnoldi), berbagai jenis anggrek serta pohon Andalas (Morus macroura). Sementara   Satwa langka dilindungi dan endemik juga ada di sini, berbagai spesies burung misalnya salah satunya  yaitu Burung kuau (Argusianus argus), Anggang tanduak (Buceros rhinoceros), Alang sarok (Ictinaetus malayanus), dan Raja udang (Ceyx erithacus). Dari keluarga mamalia, Rimbo Panti juga menjadi habitat bagi Beruang madu (Helarctos malayanus), Kukang (Nycticebus coucang), kancil (Tragulus javanicus), hingga Harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae).
Memasuki Taman Wisata alam Rimbo Panti kesejukan mulai terasa ketika menembus rimbun pepohonan disisi kiri kanan jalan. Sebagian dahan-dahan pohon-pohon besar Dari 3.120 hektar wilayah Cagar alam tersebut 570 hektar diantaranya adalah ekosistem yang memiliki potensi wisata ekologi atau saat ini sedang berkembang pesat yaitu Ekoturism yaitu wisata berbasis lingkungan. Untuk itu dijadikanlah lahan seluas 570 hektar menjadi Taman Wisata Alam, yang masuk dalam daftar Taman Wisata Alam di Indonesia.
menyatu seperti membentuk atap diatas jalan raya. Ketika turun dari kendaraan di area parkir, terlihat beberapa ekor monyet ekor panjang (macaca) berloncatan dari dahan-dahan pohon. Mereka terlihat sudah terbiasa dengan kehadiran pengunjung di sana, namun tetap menjaga jarak.







Bagian dari Taman Wisata alam Rimbo Panti yang paling menarik adalah kolam- kolam air panas yang seolah tiada henti mengalir dari perut bumi. Seperti masuk ke kawah belerang yang penuh uap, namun kolam air panas ini bukanlah kolam air panas yang mengandung belerang seperti kawah-kawah gunung. Kemungkinan panasnya berasal dari panas bumi. Beberpa pengunjung terlihat membawa telur dan merendamnya di dalam kolam air panas yang bersuhu 100 derajat tersebut. Sekitar 10-15 menit telu-telur tersebut sudah matang. Itulah salah satu keasikan para pengunjung yang datang berlibur disana.







Selain itu pengunjung bisa beristirahat dan menikmati keindahan dan kesejukan Rimbo Panti ditempat-tempat yang telah disediakan atau di dahan-dahan pohon yang tumbuh menjalar ke bawah. Akan betah sekali berlama-lama berada di dalam kawasan Taman Wisata Alam Rimbo Panti ini. Jika lapar dan tidak membawa bekal maka sekitar Cagar alam Rimbo Panti banyak tersedia pondok-pondok untuk berburu kuliner atau makanan.
Taman Wisata Alam dan Cagar Alam ini secara keseluruhan akan tetap terjaga kelestariannya jika semua memiliki komitmen yang sama untuk bersama-sama menjaga lingkungannya. Ancaman penebangan liar dan pemburuan hewan-hewan di dalamnya bisa saja terjadi karena pengawasan yang kurang ketat dan asal-asalan. Pengunjungpun bisa memberi kontribusi yang berdampak buruk seperti membuang sampah sembarangan sehingga wilayah Taman Wisata alam tersebut terlihat kotor dan merusak ekosistem di dalamnya. Semoga julukan “Permata Hijau di Pasaman Timur” tetap menjadi julukan yang pantas adanya untuk kurun waktu yang tidak terbatas.