Selasa, 19 Juli 2016

SUKU BAJO , MENYELAMI KEHIDUPANNYA DI PAGIMANA SULAWESI TENGAH



Dalam sebuah perjalanan di rangkaian kegiatan penelitian Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi, salah satu tempat penelitian di Korwil Luwuk banggai adalah Kecamatan Pagimana . Ketika selesai melakukan penelitian di beberapa desa , aku mengerjakan laporan kegiatan hari-hari sebelumnya dan hari itu, karena aku tidak mau lagi terburu-buru menyusun laporan yang setiap hari jumat diambil oleh staf Kotis. Setelah makan siang dan shalat dzuhur, aku mulai jemu sendiri. Akhirnya meminta Ibu Nina , staf Camat menemani aku untuk melihat dermaga di Pagimana.

Dengan menggunakan becak motor atau dikenal dengan sebutan Bentor, becak yang digerakkan dengan menggunakan kendaraan motor. Itulah kendaraan umum disini. Kami dibawa menuju Dermaga. Dermaga yang cukup luas itu sangat sepi. Tidak ada tanda-tanda aktifitas apapun disitu. Ternyata dermaga itu tidak digunakan sebagai pelabuhan atau kapal-kapal angkut. Hanya digunakan sebagai dermaga darurat dan belum dioperasikan. Dari sana terlihat hamparan bebukitan dan pegunungan di atas Pagimana. Begitu indah dan menyejukkan. Dikejauhan aku melihat sebuah garis putih agak berkelok. Sepertinya itu sebuah air terjun yang besar dan tinggi. Kemudian seperti kebanyakan bebukitan di wilayah Kabupaten Banggai, banyak sekali terdapat padang savana atau padang rumput. Sementara di laut dibawah dermaga , aku menyaksikan ikan-ikan yang berenang di antara terumbu-terumbu karang yang bewarnawarni.  Disekeliling dermaga masih sangat asri oleh hutan bakau yang sangat terjaga. Menurut Ibu Nina, banyak sekali perusahaan dan pejabat yang berniat melakukan reklamasi pantai untuk membangun peristirahatan dan tempat makan, namun untungnya izin untuk itu belum turun hingga saat itu . Aku bersyukur di dalam hati. Hal itu sangat melegakan, karena sangat disayangkan jika pohon-pohon bakau itu lenyap berganti bangunan dan keramaian.








Dari dermaga itu Ibu Nina mengajak aku melihat dermaga kapal angkut yang berada di sebelahnya. Kebetulan saat itu ada kapal yang berlabuh, menunggu penumpang.  Aku bisa melihat seperti apa kapal angkut penumpang itu. Dari pelabuhan kecil itu aku dibawa Ibu Nina ke tempat nelayan di pasar. Tiba-tiba terlintas dikepalaku untuk menyewa sebuah perahu untuk memutari perkampungan suku bajo yang berada di seberang. Ibu Nina berhasil mendapatkan perahu salah satu nelayan dengan harga murah. Aku tidak mau melewatkan kesempatan ini, dengan mengambil beberapa gambar sesukanya. (haha aku bukanlah seorang photographer, jadi lebih tepat aku menyebut foto-foto yang aku ambil dengan sebutan ‘foto suka-suka’).








Perahu melewati pemukiman Suku Bajo yang berada di atas air dipinggiran daratan. Rumah-rumah mungil terbuat dari kayu dan bambu. Begitu padat. Pemukiman suku bajo terletak persis di pesisir Teluk Tomini dengan nama Desa jaya Bakti. Ini merupakan pemukiman terpadat di Indonesia dan terkenal di dunia, dengan kepadatan penduduk sekitar 1826per km². Masyarakat Bajo berpendapat bahwa tepian laut dan pantai mendatangkan rejeki. Pembagian wilayah diurutkan dari tepi laut. Setiap Kepala Keluarga mempunyai luas kepemilikan tanah <50m². Pola pemukiman tersebut diseluruh pulau , dimulai dari pesisir hingga memenuhi seluruh pulau. Selain di pesisir , masyarakat Bajo rata-rata membangun rumah di ataspermukaan air yang memobilitas mereka kelaut. Seperti yang aku saksikan dari atas perahu. Ada ternak kambing yang terikat disamping rumah kecil milik mereka. Seorang laki-laki tengah mencuci pakaian dibelakang rumah, dan aku melihat sepasang suami istri yang berpakaian muslim berwarna hitam dan sang istri menggunakan cadar. Dan masyarakat Suku Bajo disini adalah muslim.







Bajo bermakna Suku Laut, karena kehidupannya dekat laut, penghasilannya semua bersumber dari laut. Suku Bajo adalah suku perantau, bukanlah masyarakat Suku asli. Suku Bajo pertama di Indonesia berada di Teluk Bone, kemudian menyebar ke berbagai tempat di Indonesia. Suku Bajo ini terkenal di dunia.

Dari pembicaraan dengan nelayan pemilik perahu, bahwa tidak jauh dari pemukiman Suku Bajo, terdapat areal penambangan nikel di pinggir laut. Aku penasaran , dan akhirnya kami dibawa menuju tempat itu yang berada di balik daratan yang berseberangan dengan pemukiman Suku Bajo atau Desa Jaya Bakti. Perahu melewati kawasan yang masih dipenuhi pohon-pohon bakau yang menutupi permukaan lautan. Dari atas perahu aku bisa melihat terumbu-terumbu karang yang cantik tapi mulai banyak rusak  dibawah air laut.







Aku terpana menyaksikan pemandangan di depanku. Daratan luas yang hanya menyisakan beberapa batang pohon, ditengah-tengah tanah pasir berwarna hitam pekat. Tanah yang siap untuk diangkut dan diproses dan menghasilkan lembaran rupiah. Sakit rasanya membayangkan tanah di tanah air kita diangkut keluar dari bumi pertiwi, menyisakan tanah gersang tandus tak lagi bermata air. Ini bukanlah wilayah penambangan. Hanya tempat pemrosesan hasil penambangan yang akan diangkut menggunakan kapal angkut yang sangat besar. Untuk tempat penampungan ini mereka mereklamasi pantai. Aku hanya mengeluh dalam hati, hasil tambang itu mungkin berasal dari Desa Asaan atau dari penambangan Nikel yang sempat kami lalui saat menuju Desa Bulu atau tempat lainnya. Aku hanya mengambil beberapa gambar disitu, dan meminta nelayan yang mengantar kami untuk kembali kepemukiman suku Bajo.







Bapak nelayan yang mengantarkan kami  hari itu bersama anak istrinya sebenarnya bermaksud pulang sore itu. Hasil tangkapan mereka tak sebanyak biasanya. Semakin lama ikan di perairan Pagimana semakin sedikit, karena faktor rusaknya Terumbu karang dan sistem perikanan yang tidak lestari seperti penggunaan pukat harimau dan bom. Selain itu disebabkan oleh dampak perubahan iklim, dimana riset menemukan kenyataan bahwa perubahan iklim meyebabkan penurunan jumlah ikan hingga 70% pada perairan di Lintang Utara yang jauh dari garis Khatulistiwa. Sementara itu masyarakat suku bajo sangat berperan dalam menghasilkan ikan bagi Pagimana, dimana maskot Pagimana adalah ikan asin yang terkenal sebagai oleh-oleh. Karena penurunan hasil tangkapan ini, maka harga ikan pun cukup mahal dan belum lagi nelayan ditekan oleh tengkulak yang tentunya menginginkan harga yang cukup murah untuk hasil tangkapan mereka.

Suku bajo tak semuanya menetap di desa jayabakti, sebagian memilih hijrah ke Tanjung Jepara dan Pulau tembang yang berada di seberang Jaya Bakti, walau berada di teluk tomini tetapi secara administratif termasuk dalam Kabupaten Banggai. Dengan kepadatan hampir 5000 jiwa Desa Jaya Bakti merupakan aset berharga bagi kepentingan suara dalam Pilkada, sayang nasib mereka tidak diperhatikan sepenuhnya oleh pemerintah. Namun begitu kehidupan suku bajo di desa jaya Bakti terasa sangat solid, dimana semua warga sangat peduli dengan yang lainnya.

Perahu bergerak pelahan melewati pohon-pohon bakau dan satu-satu bangunan milik nelayan yang dibangun di atas air. Memutar dan kembali ke arah pelabuhan dari arah yang berbeda, menuju pemukiman. Laut menunjukan pemandangan indah sore itu, laksana cermin yang memantulkan rumah-rumah di pinggiran laut dengan bias jingga. Beberapa anak berenang di lautan. Aku benar-benar menikmati indahnya pemandangan itu. Perahu menepi dan mendarat di tepi pemukiman, karena aku dan Ibu Nina berniat pulang melalui Desa Jaya Bakti dengan berjalan kaki, kemudian naik bentor di jalan trans. Melewati jembatan kayu dipinggiran laut yang sekitarnya terdapat perahu-perahu kecil dan anak-anak Bajo yang berenang dengan riang gembiranya. Bahagia dengan kesederhanaan dunia kanak-kanak mereka.











Aku dan Ibu Nina berjalan melalui pemukiman, melintasi jalan-jalan di Desa Jaya Bakti. Anak-anak ramai bermain di sore itu. Memenuhi jalanan. Begitu riuh dengan teriakan mereka, yang berkejaran menikmati masa kanak-kanak tanpa terpengaruh oleh dunia luar. Pada kesempatan berikutnya aku berkesempatan bermain dengan anak-anak Bajo. Anak-anak yang belum bersekolah ketika aku ajak bicara , mereka tidak mengerti bahasa Indonesia. Menurut anak-anak lain yang lebih besar dan sudah bersekolah, mereka yang belum bersekolah belum belajar bahasa Indonesia jadi hanya mengenal bahasa Bajo.








Kami menyusuri jalanan yang merupakan satu-satunya akses jalan raya masuk ke pemukiman tersebut. Sebuah mesjid berdiri kokoh tepat di ujung desa seperti layaknya sebuah pintu gerbang masuk ke pemukiman Bajo. Melewati jalanan yang kiri kanannya masih terdapat hutan bakau, hingga akhirnya kami sampai kembali ke jalan Trans Pagimana – Lobu. Kami kembali ke rumah dengan menggunakan Bentor.

Terima kasih Ekspedisi NKRI yang telah memberikan pengalaman yang sangat berharga melalui perjalanan yang luar biasa. Semoga apa yang menjadi harapan masyarakat di tempat-tempat jauh dari pemerintahan pusat NKRI bisa didengar dan diperhatikan serta ditindaklanjut, sehingga pembangunan bisa mencapai wilayah terluar Negara Kesatuan Republik Indonesia.






Tidak ada komentar: